
Tantrum, dalam perspektif psikologi, merupakan luapan emosi yang intens dan tidak terkendali, umumnya terjadi pada anak usia dini (1-4 tahun), tetapi dapat juga muncul pada individu dengan keterbatasan emosional atau perkembangan. Berikut penjelasan mendalam dari berbagai sudut teori dan konsep psikologi:
1. Regulasi Emosi yang Belum Matang
Tantrum dipahami sebagai akibat dari ketidakmampuan anak mengelola emosi kuat seperti frustrasi, marah, atau kelelahan. Menurut Gross (1998), regulasi emosi berkembang seiring pematangan korteks prefrontal otak, yang masih belum sempurna pada anak balita. Ketidakmampuan ini menyebabkan mereka menggunakan respons primitif (menangis, menjerit, atau memukul) untuk mengekspresikan ketidaknyaman.
2. Tahap Perkembangan Psikososial Erikson
Pada tahap Autonomy vs. Shame and Doubt (usia 1-3 tahun), anak berusaha mencapai kemandirian tetapi sering terhalang oleh keterbatasan fisik atau larangan orang tua. Konflik antara keinginan untuk mandiri (“Aku bisa sendiri!”) dan ketidakberdayaan memicu frustrasi, yang diekspresikan melalui tantrum.
3. Teori Perilaku (Behaviorisme)
Dari sudut pandang Skinner, tantrum dapat dipelajari melalui pengkondisian operan. Jika orang tua atau pengasuh menuruti keinginan anak selama tantrum (reinforcement positif), perilaku tersebut akan diperkuat. Sebaliknya, jika diabaikan (extinction), frekuensinya cenderung menurun.
4. Keterbatasan Komunikasi
Menurut Vygotsky, bahasa adalah alat kunci untuk regulasi emosi. Anak balita yang belum mahir berkomunikasi cenderung menggunakan tantrum sebagai cara menyampaikan kebutuhan (misalnya, lapar, lelah, atau keinginan yang tidak terpenuhi). Tantrum berkurang seiring perkembangan kemampuan bahasa.
5. Temperamen Bawaan
Teori temperamen Thomas dan Chess menyebutkan bahwa anak dengan tipe “sulit” (intensitas reaksi tinggi, mudah frustrasi) lebih rentan mengalami tantrum. Faktor biologis seperti sensitivitas sistem saraf memengaruhi kecenderungan ini.
6. Pola Asuh dan Lingkungan
Baumrind mengidentifikasi bahwa pola asuh yang tidak konsisten (misalnya, orang tua yang terkadang menoleransi tantrum tetapi di waktu lain menghukum) dapat memperparah frekuensi tantrum. Lingkungan stres (konflik keluarga, perubahan rutinitas) juga menjadi pemicu.
7. Faktor Kognitif (Piaget)
Pada tahap praoperasional (2-7 tahun), anak memiliki pemikiran egosentris dan belum memahami sudut pandang orang lain. Ketidakmampuan ini membuat mereka frustrasi ketika harapan tidak sesuai realitas, misalnya tidak bisa mendapatkan mainan yang diinginkan.
8. Gangguan Perkembangan atau Psikologis
Pada kasus tertentu, tantrum yang ekstrem atau persisten dapat menjadi gejala gangguan seperti ADHD, autisme, atau gangguan kecemasan. Psikolog klinis akan mengevaluasi durasi, intensitas, dan konteks tantrum untuk membedakannya dari perilaku tipikal.
Strategi Penanganan dari Perspektif Psikologi
- Validasi Emosi: Mengakui perasaan anak (“Ibu tahu kamu marah karena tidak boleh main”) tanpa menuruti tuntutannya.
- Ajarkan Regulasi Emosi: Teknik seperti tarik napas dalam atau menggunakan kata-kata untuk menggantikan amukan.
- Konsistensi Respons: Hindari reinforcement positif terhadap tantrum, tetapi berikan perhatian saat anak tenang.
- Antisipasi Pemicu: Menghindari situasi yang memicu kelelahan atau frustrasi berlebihan.
Tantrum merupakan fenomena normal dalam perkembangan, tetapi pemahaman mendalam tentang penyebab dan konteks psikologisnya membantu orang tua dan pendidik merespons secara efektif.

Hubungi Psikolog kepercayaan anda untuk dapat memeriksakan anak anda untuk memberikan solusi terbaik bagi putra-putri anda. Pada nomer yang tertera, anda akan dibantu oleh asisten psikolog untuk menentukan waktu bertemu dengan Paikolog yang memiliki legalitas diantaranya Maria Ulfah Psikolog.

#tantrum #emosi #marah #teriak #ngamuk #tenang #solusi #psikolog
