Plus minus pola asuh Kakek dan Nenek

Kakek dan nenek memang bisa menjadi tempat penitipan anak paling aman dan terpercaya. Namun demikian, pola asuh yang mereka terapkan pada cucu terkadang rawan konflik. Bagaimana cara mengatasinya?

Tak bisa dipungkiri, entah karena tuntutan pekerjaan atau yang lainnya, ayah dan bunda kerap harus menitipkan buah hatinya kepada orang lain. Kondisi tersebut tentu bukan hal yang mudah. Pasalnya, tidak semua orang bisa dipercaya untuk mejaga anak. Alih-alih aman, anak yang dititipkan pada orang lain terkadang ada yang diperlakukan dengan kasar.

Itu sebabnya, kebanyakan orangtua lebih memilih menitipkan anaknya pada kakek dan neneknya sendiri. Sebab bila dilihat dari segi keamanan, sudah tentu lebih terjamin. Selain itu, kakek dan nenek umumnya merupakan  sosok yang familiar dan dekat dengan anak sehingga menimbulkan rasa nyaman. Alhasil ketika anak ditinggal orangtua, rasa nyaman yang diberikan kakek dan nenek dapat sedikit mengobati rasa rindu mereka kepada ayah dan bundanya.

Kenali Rasa Sayang Kakek dan Nenek

Menurut Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog dari Balita Ceria Daycare, menitipkan anak pada kakek dan nenek memang  merupakan hal yang wajar dan rasional. Meski demikian, orangtua juga perlu memperhatikan, seperti apa ‘kategori sayang’ yang dicurahkan oleh kakek dan nenek kepada cucunya.

Sebagai contoh, saat dititipkan, kakek dan nenek sudah diberi pesan untuk tidak memberikan permen pada si kecil karena sedang sakit. Tapi pada praktiknya permen tetap diberikan karena cucunya merengek. Nah, dalam kondisi tersebut, ‘rasa sayang’ kakek dan neneknya sudah pasti melewati batas dan mengarah ke perilaku posesif. Bahkan, tak sedikit pula kakek dan nenek yang malah memberlakukan pola asuh permisif dengan jalan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada cucunya.

“Bila ditinjau dari segi usia, contoh prilaku posesif maupun pola asuh permisif dari kakek dan nenek memang normal terjadi.  Pasalnya, di usia tersebut sudah pasti terjadi penurunan fisik dan kesehatan yang pada akhirnya akan mempengaruhi prilaku kakek dan nenek. Mereka jadi cenderung mencari hal-hal yang sifatnya menyenangkan, stabil, dan selaras. Maka wajar jika ditemui kakek dan nenek yang tidak menerapkan pola asuh ayah dan ibu.  Terlebih pada dasarnya kakek dan nenek sering menganggap cucu yang menangis itu seperti ‘tersakiti’. Karenanya, mereka lebih senang menuruti keinginan cucunya dan melonggarkan aturan agar si kecil merasa senang,” tutur Maria memberikan alasan.

Disinilah mulai timbul permasalahan. Dengan adanya pola asuh yang berbeda antara orangtua dengan kakek dan nenek, anak kerap menjadi bingung mana peraturan yang baik dan perlu dipatuhi. Pada akhirnya, anak tentu memiliki kecenderungan mencari peraturan yang lebih ringan dan menguntungkan mereka. Tak heran jika ingin sesuatu, mereka sudah tahu harus lari ke pihak mana agar keinginannya dapat dituruti. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan bukan? Karena itu orangtua hasus segera mencari solusinya

 Tips Menitipkan Anak ke Kakek dan Nenek

Lebih lanjut Maria menjelaskan bahwa perbedaan pola asuh itu sebenarnya dapat dijembatani. Caranya,  sebelum menitipkan anak, ada baiknya orangtua melihat kondisi fisik kakek dan neneknya terlebih dahulu. Apakah memang memungkinkan untuk menjaga anak? Baru setelah itu menanyakan kesediaan mereka untuk dititipkan anak. Mengapa harus melihat kondisi dulu? Karena jika ditanya terlebih dahulu, biasanya kakek dan nenek akan menjawab positif dan menerima untuk mengurus anak walaupun kondisi fisik mereka sendiri sebenarnya tidak memungkinkan.

Kemudian Maria juga menyarankan agar orangtua yang memilih menitipkan anak kepada kakek dan neneknya sudah mempersiapkan segala kebutuhan si kecil. Mulai dari kebutuhan makannya hingga mainan kegemaran anak. Akan lebih baik lagi jika memberikan bantuan kepada kakek dan nenek dengan menyediakan pengasuh. Sehingga kakek dan nenek lebih diarahkan sebagai sosok yang mengawasi anak.

Lalu hal yang paling penting adalah, diskusikan terlebih dahulu secara terbuka mengenai aturan serta batasan saat mengasuh anak.  Jelaskan pada kakek dan nenek bahwa peraturan tersebut diberikan untuk kebaikan si kecil. Jangan lupa, terangkan juga bahwa anak perlu tumbuh dengan pola asuh yang selaras sehingga tidak mengalami kebingungan. Terakhir Maria menyarankan agar orangtua membantu memberikan pemahaman kepada anak bahwa peraturan di rumah juga perlu dilakukan saat mereka bersama kakek dan neneknya.

Sumber : www.sangbuahhati.com  Monday, 9 October 2017

APA ITU AUTISM SPECTRUM DISORDER ?

APA ITU AUTISM SPECTRUM DISORDER ?

Para dokter dan psikolog mendefinisikan kelainan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) sebagai keadaan di mana terdapat 3 ketidakmampuan yang berbeda, yaitu ketidakmampuan dalam berinteraksi sosial, hambatan berkomunikasi, dan keterlambatan kemampuan bahasa dan kognitif. Perbedaan-perbedaan pada area ini biasanya bisa diketahui sebelum anak berusia 3 tahun. Autisme mempunyai banyak klasifikasi dan kata autisme merupakan suatu istilah umum untuk menjelaskan area yang sangat luas mengenai perilaku dan kemampuan, sehingga mungkin istilah spektrum lebih tepat untuk digunakan.

Diagnosa dari ASD meliputi observasi pada tingkat komunikasi, perilaku, dan perkembangan anak. Setelah mendapatkan tanda keterlambatan pada perkembangan kemampuan bahasa, diagnosa biasanya dapat diberikan sekitar usia 2 atau 3 tahun. Pada anak yang lebih besar usianya, bisa juga menunjukkan tanda seperti tidak memberi tanggapan saat dipanggil namanya, ketidakmampuan bermain dengan mainan, tidak ada kontak mata dengan orang lain, pola gerakan yang aneh, tidak tersenyum, kecenderungan untuk membariskan mainan atau benda lain, atau kegagalan untuk mengikuti arah/petunjuk sama sekali.

Walaupun anak-anak dengan autisme mengalami keterlambatan bicara dan bahasa, kemampuan motorik mereka bisa menyamai anak-anak lain seusia mereka. Aktivitas yang kompleks seperti menyusun puzzle atau menyelesaikan soal matematika bisa jadi sangat mudah baginya, sementara tugas lain yang sangat sederhana seperti berteman atau berbicara dengan orang lain bisa jadi hal yang sulit (Richmond & Spivey, 2012)

Jika anak Anda menunjukkan beberapa dari gejala di atas atau sebelum berusia 3 tahun, Anda bisa menghubungi tim ahli tumbuh kembang (dokter spesialis anak, psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, fisioterapis) yang bisa bekerja sama untuk mengenali jika anak Anda mempunyai tanda-tanda atau gejala kelainan spektrum autisme (ASD). Setelah diagnosa dari tim ahli tumbuh kembang, mereka bisa merencanakan program intervensi atau terapi yang sesuai dengan kebutuhan anak. Untuk informasi tambahan mengenai kelainan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorders), Anda bisa mengunjungi Apotek Medikita, Ruko Citra 3 Ext. Blok A 1 No.7 Pegadungan, Kalideres Jakarta-Barat. Telp (021) 5595 3676.

Bunda dan Ayah dapat langsung mendatangi lokasi yang tertera dan dapat juga untuk menghubungi pada nomer telephone yang telah tersedia.

Terima kasih atas kepercayaan Bunda / Ayah kepada kami

APA ITU ATTENTION-DEFICIT/ HYPERACTIVE DISORDER (ADHD)?

APA ITU (ADHD) ATTENTION-DEFICIT/ HYPERACTIVE DISORDER?

ADHD atau Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder merupakan perilaku dengan gejala kurang memperhatikan, hiperaktif, dan impulsif yang menyebabkan kegagalan pada sebagian besar aspek kehidupan. ADHD tidak menunjukkan gejala yang dapat dilihat melalui sinar X atau tes dari laboratorium, hanya dapat diidentifikasi melalui karakteristik perilaku yang diperhatikan pada tiap anak. Perilaku anak dengan ADHD tidak dapat ditebak dan penuh dengan kontradiksi. Tidak hati-hati dan sangat tidak terorganisir menjadi sumber permasalahan bagi anak, orang tua, saudara kandung, guru-guru, dan teman sekelasnya. Usaha yang keras dan aturan yang ketat tidak akan membantu, karena kebanyakan anak dengan ADHD sudah berusaha untuk mengontrol dirinya. Mereka mau melakukan segala sesuatu dengan baik, tetapi selalu gagal karena kontrol diri yang sangat kurang. Pada situasi tertentu, anak dengan ADHD tampak terlihat baik dan tidak menunjukkan perilaku seperti cirinya. Mereka mungkin tidak tahu mengapa suatu hal dapat menjadi salah atau berpikir bahwa mereka berbeda.

Penyebab ADHD dapat karena faktor genetik, adanya masalah pada masa sebelum kehamilan, saat kehamilan, kelahiran dan sesudah kelahiran, masalah neurobiologis, diet dan alergi tertentu, dan pengaruh keluarga. ADHD memiliki dua ciri utama yaitu ADHD dengan gejala kurang pemusatan perhatian dan gejala hiperaktif-impulsif. Gangguan konsentrasi sebenarnya merupakan istilah lain dari gangguan perkembangan yang dikenal sebagai Attention-Deficit Disorder (ADD). Pada beberapa anak, gangguan konsentrasi biasanya diikuti oleh hiperaktivitas dan impulsivitas. Apabila terjadi, biasanya diagnosis berubah menjadi Attention-Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD. Sebagai gangguan perkembangan, ADD atau ADHD sesungguhnya sudah dapat di deteksi sejak anak belum berusia tujuh tahun. Namun, biasanya diagnosis baru diberikan saat anak berusia sekolah karena dampak gangguan ini dalam kehidupan belajar anak (Mash & Wolfe, 2010).

Jika Putra-Putri anda butuh konsultasi atau penganangan lebih lanjut, Bunda dapat menghubungi pada nomor yang tersedia.

 

 

 

Contact Us :

Ruko Citra 3 Ext. Blok A1 No. 7

Pegadungan Kalideres Jakarta Barat

Telp. 021 - 55953676

Ponsel  08118496777 (WA)
 

DAMPAK BERMAIN GADGET

DAMPAK BERMAIN GADGET

Dear Moms, ternyata masih banyak yah permainan yg lebih berguna untuk anak daripada bermain gadget, menonton TV, atau bermain laptop/komputer. Salah satu permainan edukatif yang bisa menjadi alternatif permainan adalah LEGO. Berguna untuk mengasah kreativitas, imajinasi, serta melatih kemampuan koordinasi motorik halus anak.

Bukannya anak sama sekali nggak boleh bermain gadget (dan sejenisnya). Tapi ingat Moms, SCREEN TIME untuk anak maksimal 2 jam saja perhari. IYAA.. DUA JAM SAJA DALAM SEHARI SEMALAM ✌

Apa tuh SCREEN TIME?
Screen time adalah waktu yang digunakan anak untuk bermain gadget, menonton TV, atau bermain laptop/komputer.

Apa yang terjadi kalau anak terlalu lama menghabiskan waktunya untuk SCREEN TIME?
Dampaknya cukup banyak Moms. Antara lain :
1. Keterlambatan bicara, karena saat SCREEN TIME minim sekali anak melakukan komunikasi. Sekalipun tidak ada keterlambatan dalam berbicara, biasanya bahasa yang anak gunakan adalah bahasa pasif karena anak tidak terbiasa berbicara secara aktif.
2. Kurangnya kemampuan motorik, khususnya motorik halus seperti menulis. Saat anak terlalu lama SCREEN TIME terutama menggunakan gadget, anak terbiasa menggunakan jari-jari kecilnya dengan sedikit tenaga (hanya dengan sedikit sentuhan saja layar bisa berganti sesuai dengan keinginan anak). Padahal, saat anak belajar menulis, koordinasi antara mata dan tangan sangat penting. Anak harus terampil dalam menggunakan jari-jarinya untuk membuat tulisan yang baik dan rapi.
3. Kurangnya kemampuan anak untuk bersosialisasi dan mengeksplorasi lingkungannya. Moms, saat anak terpapar gadget (dan sejenisnya), anak seakan-akan melupakan hal-hal disekelilingnya. Mata mungilnya terpana dengan apa yang ia lihat di layar. Masa kecilnya terlalu singkat apabila ia habiskan hanya untuk SCREEN TIME. Masih banyak yang dapat anak lakukan dengan kemampuan imajinasinya yang luar biasa.

Masih banyak dampak negatif lainnya. Intinya, sesuatu yang berlebihan itu efeknya buruk.
So, mulai sekarang perhatikan SCREEN TIME untuk anak. Maksimal 2 jam saja yaa, Moms. Pastikan juga saat ortu bekerja, PRT tidak menyuguhi gadget/TV untuk mendiamkan anak di rumah.

Salam,
Maria Ulfah Hanafie M.Psi., Psikolog

#psikologanak #psikologremaja #psikolog

PRAKTEK PSIKOLOG

PRAKTEK PSIKOLOG

By :

Maria Ulfah S. Psi., M. Psi., Psikolog

Usia anak adalah usia emas perkembangan otak, mereka akan belajar serta menyerap apa yang dia lihat, dia dengar serta mencoba apa saja yang dia temui di lingkungannya.

Setiap anak masing-masing memiliki potensi yang berbeda, untuk itu sebaiknya kita sebagai orang tua dapat mengerti dan mengetahui untuk membimbing sesuai dengan minat anak.

LAYANAN PSIKOLOGI

  • KONSULTASI PSIKOLOGIS ANAK DAN REMAJA
  • TES KEPRIBADIAN
  • TES IQ
  • TES IQ PENJURUSAN SEKOLAH / KULIAH
  • TES CQ / TES KRATIFITAS
  • TES KEMATANGAN SEKOLAH
  • TES MINAT & BAKAT
  • INDIVIDUAL NEED TEST
  • TES RELASI SOSIAL DAN KONSEP DIRI
  • TES PRESTASI / SIKAP KERJA
  • EVALUASI TUMBUH KEMBANG
  • TERAPI BERMAIN / PLAY THERAPY
  • TERAPI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
  • PAKET ASSESSMENT PSIKOLOGI

 

 

 

 

Bunda dan Ayah dapat langsung mendatangi lokasi yang tertera dan dapat juga untuk menghubungi pada nomer telephone yang telah tersedia.

Terima kasih atas kepercayaan Bunda / Ayah kepada kami