Featured

KLINIK TUMBUH KEMBANG

MEDIKITA

Solusi Sehat Kita

Sempurnakan Perkembangan Anak Kita

 

PRAKTEK

Spesialis Anak

dr. Siska Mardani, M.Sc, Sp. A

Senin-Sabtu  (Jam : 18.00 – 20.00)

Pendidikan :

dr.  - Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, 2005

MSc - Universitas Gadjah Mada, 2012

Sp.A - Universitas Gadjah Mada, 2012

 

 

Psikolog Anak dan Remaja

Maria Ulfah, M. Psi., Psikolog

Senin-Sabtu  (Jam : 09.00 – 16.00) atau sesuai perjanjian

Pendidikan :

S.Psi.  - Universitas Muhamadyah Malang, 2008

M. Psi. - Universitas Tarumanagara, 2013

 

Speech Theraphy / Terapi Wicara

Melinda Hasnawati, A.MdTW

 

 

 

Senin-Sabtu  (Jam : 09.00 – 16.00) atau sesuai perjanjian

Pendidikan :

A.MdTW  - Akademi Terapi Wicara, 2013

Contact Us :

Ruko Citra 3 Ext. Blok A1 No. 7

Pegadungan Kalideres Jakarta Barat

Telp. 021 - 55953676

Test IQ Menggunakan Jasa Psikolog atau Komputer

Terdapat berbagai macam persepsi dari proses atau Test IQ, untuk itu kami mencoba memberikan pandangan serta pemahaman yang singkat mengenai hal tersebut diatas.

Psikolog

Dalam hal ini Tester atau Psikolog dengan pengertiannya adalah seorang ahli dalam bidang praktik psikologi, bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Psikolog dapat dikategorikan ke dalam beberapa bidang tersendiri sesuai dengan cabang ilmu psikologi yang ditekuninya, baik itu Psikolog Klinis, Psikolog Pendidikan, dan Psikolog Industri.

Tetapi kata “Psikolog” lebih sering digunakan untuk menyebut Psikolog Klinis, psikolog yang bergerak di bidang kesehatan mental. Psikolog di Indonesia tergabung dalam organisasi profesi bernama HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia).

Dengan kata lain seorang Psikolog telah menempuh Pendidikan Sarjana Psikologi dan dilanjutkan dengan menempuh Pendidikan Magister Psikologi (Profesi Psikolog). Serta ditambah dengan mendapatkan SIUP (Surat Ijin Praktik Psikologi) yang dikeluarkan oleh HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia)

Komputer

Tes IQ berbasis komputer berupaya tidak menghilangkan kaidah ilmu psikologis. Dan tentunya dengan bantuan tenaga ahli / Psikolog serta dukungan team IT (Informatian Technologi) untuk membuat system agar dapat mudah diopeasikan dan menarik. Dengan adanya bantuan system computer tersebut, tes IQ dapat dilakukan tanpa membacakan soal kepada peserta tes dan hasil dari tes tersebut, dan hasil dapat dilihat dalam waktu yang cukup singkat. Tes IQ pun dapat dikemas secara lebih menarik dan berwarna sehingga tidak menimbulkan kejenuhan bagi yang mengerjakan. Skoring pun dapat dilakukan secara lebih praktis dan cepat.

Biasanya test dengan menggunakan metode ini adalah classical (jumlah banyak) dan juga diperuntukkan untuk test karyawan yang hendak masuk disuatu perusahaan bukan untuk test spesifik yang perlu adanya penanganan serta interaksi langsung dengan Tester / Tenaga Ahli Psikologi.

Namun test IQ yang belum tersertifikasi belum tentu dapat diterjemahkan atau bahkan diterima oleh Psikolog lain.

Kesimpulan :

Menurut pandangan kami, perlunya Tenaga Ahli yang langsung terlibat didalam psoses test untuk memastikan kebutuhan, keakuratan serta feedback yang diberikan oleh Testee (orang yang ditest) agar hasil tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Meskipun metode ini membutuhkan biaya dan waktu yang cukup besar.

Tidak menjadi permasalahan jika menggunakan Komputer, untuk mendapatkan hasil yang dibutuhkan namun ada batasan / kaidah tertentu yang mengharuskan melakukan assasment kepada Psikolog

Untuk itu hal yang paling penting dalam laporan hasil pemeriksaan telah dilakukannya proses tersebut diantarannya tanda-tangan disertakan SIPP(Surat Ijin Praktik Psikolog) dari Himpunan Psikolog serta stempel yang menjadi validasi bahwa proses Test IQ tersebut benar-benar telah dilakukan oleh orang yang telah mendapat wewenang serta diakui.

PERLUKAH ANAK DILAKUKAN TEST IQ

PERLUKAH ANAK DILAKUKAN TEST IQ

 

Banyak dari orang tua menanyakan segala hal tentang Test IQ (Intelligence Quotient ). Baik itu Apa Test IQ, Siapa yang melakukan kegiatan Test IQ, Kapan waktu pelaksanaan Test IQ, Mengapa dilakukannya Test IQ dan Bagaimana dilakukannya Test IQ. Serta hal yang tidak kalah penting yaitu “Apa yang didapat untuk orang tua setelah melaksanakn Test IQ.

Segala pertanyaan yang Ayah-Bunda butuhkan sekiranya dapat kami jelaskan pada tanya-jawab dibawah, yang mana hal tersebut kami simpulkan berdasar mayoritas pertanyaan yang datan kepada kami

Pertanyaan(P) dan Jawaban(J)

1. P :Apa itu IQ dan Test IQ ?

J  : (bahasa Inggris: intelligence quotient, disingkat IQ) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.

Intelegent quotient atau IQ ialah angka yang mana menjelaskan tingkat kecerdasan seseorang yang dibandingkan dengan sesamanya dalam satu populasi. Definisi asli dari IQ adalah mengukur kecerdasan dari anak-anak ketika: IQ adalah sebuah rasio dari umur secara mental dibagi umur secara fisik dan dikalikan dengan angka 100. Umur secara mental dihitung berdasarkan dasar dari rata-rata hasil di dalam sebuah tes yang dibagi dalam setiap kategori umur.

2. P: Siapa yang melakukan kegiatan Test IQ

J : a. Dalam hal ini umumnya terdapat 2 orang yang melakukannya yang Pertama(1st) Tester atau Psikolog  dengan pengertiannya adalah seorang ahli dalam bidang praktik psikologi, bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Psikolog dapat dikategorikan ke dalam beberapa bidang tersendiri sesuai dengan cabang ilmu psikologi yang ditekuninya, misalnya Psikolog Klinis, Psikolog Pendidikan, dan Psikolog Industri. Tetapi kata “Psikolog” lebih sering digunakan untuk menyebut Psikolog Klinis, psikolog yang bergerak di bidang kesehatan mental. Psikolog di Indonesia tergabung dalam organisasi profesi bernama HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia).

Dengan kata lain seorang Psikolog telah menempuh Pendidikan Sarjana Psikologi dan dilanjutkan dengan menempuh Pendidikan Magister Psikologi (Profesi Psikolog). Serta ditambah dengan mendapatkan SIUP (Surat Ijin Praktik Psikologi) yang dikeluarkan oleh HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia)

b. Kedua (2nd) yaitu Testee (testi) adalah orang seseorang baik itu usia dini maupun dewasa yang dilakukan serta bersedia untuk melaksanakan proses Test IQ atau test lainnya sesuai dengan kebutuhan.

3. P : Kapan waktu pelaksanaan Test IQ

J : Waktu yang optimal adalah pagi hari (malam sebelumnya istirahat cukup) dan sebaiknya sarapan yang cukup sebelum dilakukan test. Serta pastikan kondisi tubuh sehat.

4. P : Mengapa dilakukannya Test IQ

J :

  • Dapat mengetahui tingkat kecerdasan anak ataupun dewasa. Serta dapat membantu mencari tahu faktor prestasi anak yang tidak berkembang / terhambat.
  • Melihat potensi didalam diri anak sehingga dapat dioptimalkan untuk masa depannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
  • Mengetahui hambatan yang dialami anak dalam proses belajar atau beradaptasi dengan lingkungan. Dengan begitu bisa dicari solusi yang terbaik untuk memecahkan persoalannya.
  • Membantu orangtua membuat rancangan masa depan anak baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Dengan begitu, masa depan anak lebih terarah sesuai potensi kemampuannya.

5. P : Bagaimana dilakukannya Test IQ

J  : Pemeriksaan inteligensi yang benar tidak hanya menghasilkan 1 skor IQ tunggal, melainkan kumpulan dari berbagai skor. Beberapa di antara skor IQ adalah daya tangkap, daya ingat, kemampuan konsentrasi, kemampuan analisis-sintesis, kemampuan matematika, kemampuan bahasa, dll. Tes IQ yang baik (ini rahasia: sebetulnya para psikolog lebih suka menyebutnya ‘pemeriksaan inteligensi’, bukan tes IQ) juga akan mampu mengukur sikap kerja seperti ketelitian, kecepatan kerja, ataupun sistematika kerja. Sikap kerja yang baik dapat diinterpretasikan berbagai hal, salah satunya kesiapan anak untuk bersekolah.

Pada anak-anak bermasalah, selain mendapatkan skor IQ, psikolog juga mendapatkan berbagai data lain, misalnya jenis gangguan yang mungkin dialami anak, mulai dari gangguan perkembangan sampai gangguan kepribadian. Data-data tersebut kemudian jadi bala bantuan dalam menegakkan diagnosis.

Karena banyaknya kumpulan skor, maka bisa saja dua anak yang memiliki skor IQ total yang sama, misalnya sama-sama ber-IQ 110 tapi ternyata memiliki kemampuan yang berbeda, karena skor-skor di dalamnya berbeda. Oleh karena itu sebetulnya memprediksi prestasi anak hanya dari satu skor IQ saja sangat mungkin menghasilkan prediksi yang kurang tepat.

 

KLASIFIKASI ANGKA KECERDASAN

70 - 79 = Tingkat IQ rendah atau keterbelakangan mental

80 - 90 = Tingkat IQ rendah yang masih dalam kategori normal (Dull Normal)

91 - 110 = Tingkat IQ normal atau rata-rata

111 - 120 = Tingkat IQ tinggi dalam kategori normal (Bright Normal)

120 - 130 = Tingkat IQ superior 131 atau lebih = Tingkat IQ sangat superior atau jenius.

DAMPAK NEGATIVE PENYANGKALAN (DENIAL) MENGENAI TUMBUH KEMBANG ANAK

Saat anak mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya apa yang dapat orang tua lakukan ?. Menerima dan memahami bahwa anak memerlukan bantuan orang tuanya untuk mencari alternative terapi atau penanganan para ahli yang tepat. Dan yang paling penting dari semua itu : Orang tua menerima kekurangan anak dan berpikiran bahwa anak membutuhkan bantuan secepatnya dari ahlinya untuk menunjang tumbuh kembangnya.

TIDAK ADA GUNANYA ORANG TUA MELAKUKAN PENYANGKALAN (DENIAL) sebagai contoh “anakku ngak kenapa-kenapa”/ “anakku baik-baik saja”, padahal jauh dilubuk hatinya ia dapat melihat dan merasakan anaknya mengalami hambatan secara psikologis.Jika orang tua masih saja melakukan penyangkalan (Denial), bagaimana bisa untuk segera berbenah diri dan bagaimana bisa anak mendapatkan bantuan yang tepat ?

Kunci keberhasilan sebuah terapi ternyata bukan dari penanganan yang diberikan oleh Psikolog, Dokter ataupun Terapis, Tetapi dukungan, keterbukan dan tidak adanya penyangkalan atau penolakan dari orang tuanya.

Pahami dan cermati, apakah anak sudah melewati setiap tahapan tumbuh kembangnya dengan tepat sesuai dengan usianya, yaitu erkembangan fisik, kognitif (berfikir), bicara, perilaku dan social.

Apabila melihat adanya keterlambatan atau hambatandari tumbuh kembang anak, akui dan cari bantuan ahli secepatnya atau sesegera mungkin.

Akhirnya, semoga kita semua dapat menjadi orang tua yang amanah dalam menjaga titipan-Nya.

Plus minus pola asuh Kakek dan Nenek

Kakek dan nenek memang bisa menjadi tempat penitipan anak paling aman dan terpercaya. Namun demikian, pola asuh yang mereka terapkan pada cucu terkadang rawan konflik. Bagaimana cara mengatasinya?

Tak bisa dipungkiri, entah karena tuntutan pekerjaan atau yang lainnya, ayah dan bunda kerap harus menitipkan buah hatinya kepada orang lain. Kondisi tersebut tentu bukan hal yang mudah. Pasalnya, tidak semua orang bisa dipercaya untuk mejaga anak. Alih-alih aman, anak yang dititipkan pada orang lain terkadang ada yang diperlakukan dengan kasar.

Itu sebabnya, kebanyakan orangtua lebih memilih menitipkan anaknya pada kakek dan neneknya sendiri. Sebab bila dilihat dari segi keamanan, sudah tentu lebih terjamin. Selain itu, kakek dan nenek umumnya merupakan  sosok yang familiar dan dekat dengan anak sehingga menimbulkan rasa nyaman. Alhasil ketika anak ditinggal orangtua, rasa nyaman yang diberikan kakek dan nenek dapat sedikit mengobati rasa rindu mereka kepada ayah dan bundanya.

Kenali Rasa Sayang Kakek dan Nenek

Menurut Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog dari Balita Ceria Daycare, menitipkan anak pada kakek dan nenek memang  merupakan hal yang wajar dan rasional. Meski demikian, orangtua juga perlu memperhatikan, seperti apa ‘kategori sayang’ yang dicurahkan oleh kakek dan nenek kepada cucunya.

Sebagai contoh, saat dititipkan, kakek dan nenek sudah diberi pesan untuk tidak memberikan permen pada si kecil karena sedang sakit. Tapi pada praktiknya permen tetap diberikan karena cucunya merengek. Nah, dalam kondisi tersebut, ‘rasa sayang’ kakek dan neneknya sudah pasti melewati batas dan mengarah ke perilaku posesif. Bahkan, tak sedikit pula kakek dan nenek yang malah memberlakukan pola asuh permisif dengan jalan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada cucunya.

“Bila ditinjau dari segi usia, contoh prilaku posesif maupun pola asuh permisif dari kakek dan nenek memang normal terjadi.  Pasalnya, di usia tersebut sudah pasti terjadi penurunan fisik dan kesehatan yang pada akhirnya akan mempengaruhi prilaku kakek dan nenek. Mereka jadi cenderung mencari hal-hal yang sifatnya menyenangkan, stabil, dan selaras. Maka wajar jika ditemui kakek dan nenek yang tidak menerapkan pola asuh ayah dan ibu.  Terlebih pada dasarnya kakek dan nenek sering menganggap cucu yang menangis itu seperti ‘tersakiti’. Karenanya, mereka lebih senang menuruti keinginan cucunya dan melonggarkan aturan agar si kecil merasa senang,” tutur Maria memberikan alasan.

Disinilah mulai timbul permasalahan. Dengan adanya pola asuh yang berbeda antara orangtua dengan kakek dan nenek, anak kerap menjadi bingung mana peraturan yang baik dan perlu dipatuhi. Pada akhirnya, anak tentu memiliki kecenderungan mencari peraturan yang lebih ringan dan menguntungkan mereka. Tak heran jika ingin sesuatu, mereka sudah tahu harus lari ke pihak mana agar keinginannya dapat dituruti. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan bukan? Karena itu orangtua hasus segera mencari solusinya

 Tips Menitipkan Anak ke Kakek dan Nenek

Lebih lanjut Maria menjelaskan bahwa perbedaan pola asuh itu sebenarnya dapat dijembatani. Caranya,  sebelum menitipkan anak, ada baiknya orangtua melihat kondisi fisik kakek dan neneknya terlebih dahulu. Apakah memang memungkinkan untuk menjaga anak? Baru setelah itu menanyakan kesediaan mereka untuk dititipkan anak. Mengapa harus melihat kondisi dulu? Karena jika ditanya terlebih dahulu, biasanya kakek dan nenek akan menjawab positif dan menerima untuk mengurus anak walaupun kondisi fisik mereka sendiri sebenarnya tidak memungkinkan.

Kemudian Maria juga menyarankan agar orangtua yang memilih menitipkan anak kepada kakek dan neneknya sudah mempersiapkan segala kebutuhan si kecil. Mulai dari kebutuhan makannya hingga mainan kegemaran anak. Akan lebih baik lagi jika memberikan bantuan kepada kakek dan nenek dengan menyediakan pengasuh. Sehingga kakek dan nenek lebih diarahkan sebagai sosok yang mengawasi anak.

Lalu hal yang paling penting adalah, diskusikan terlebih dahulu secara terbuka mengenai aturan serta batasan saat mengasuh anak.  Jelaskan pada kakek dan nenek bahwa peraturan tersebut diberikan untuk kebaikan si kecil. Jangan lupa, terangkan juga bahwa anak perlu tumbuh dengan pola asuh yang selaras sehingga tidak mengalami kebingungan. Terakhir Maria menyarankan agar orangtua membantu memberikan pemahaman kepada anak bahwa peraturan di rumah juga perlu dilakukan saat mereka bersama kakek dan neneknya.

Sumber : www.sangbuahhati.com  Monday, 9 October 2017

APA ITU AUTISM SPECTRUM DISORDER ?

APA ITU AUTISM SPECTRUM DISORDER ?

Para dokter dan psikolog mendefinisikan kelainan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) sebagai keadaan di mana terdapat 3 ketidakmampuan yang berbeda, yaitu ketidakmampuan dalam berinteraksi sosial, hambatan berkomunikasi, dan keterlambatan kemampuan bahasa dan kognitif. Perbedaan-perbedaan pada area ini biasanya bisa diketahui sebelum anak berusia 3 tahun. Autisme mempunyai banyak klasifikasi dan kata autisme merupakan suatu istilah umum untuk menjelaskan area yang sangat luas mengenai perilaku dan kemampuan, sehingga mungkin istilah spektrum lebih tepat untuk digunakan.

Diagnosa dari ASD meliputi observasi pada tingkat komunikasi, perilaku, dan perkembangan anak. Setelah mendapatkan tanda keterlambatan pada perkembangan kemampuan bahasa, diagnosa biasanya dapat diberikan sekitar usia 2 atau 3 tahun. Pada anak yang lebih besar usianya, bisa juga menunjukkan tanda seperti tidak memberi tanggapan saat dipanggil namanya, ketidakmampuan bermain dengan mainan, tidak ada kontak mata dengan orang lain, pola gerakan yang aneh, tidak tersenyum, kecenderungan untuk membariskan mainan atau benda lain, atau kegagalan untuk mengikuti arah/petunjuk sama sekali.

Walaupun anak-anak dengan autisme mengalami keterlambatan bicara dan bahasa, kemampuan motorik mereka bisa menyamai anak-anak lain seusia mereka. Aktivitas yang kompleks seperti menyusun puzzle atau menyelesaikan soal matematika bisa jadi sangat mudah baginya, sementara tugas lain yang sangat sederhana seperti berteman atau berbicara dengan orang lain bisa jadi hal yang sulit (Richmond & Spivey, 2012)

Jika anak Anda menunjukkan beberapa dari gejala di atas atau sebelum berusia 3 tahun, Anda bisa menghubungi tim ahli tumbuh kembang (dokter spesialis anak, psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, fisioterapis) yang bisa bekerja sama untuk mengenali jika anak Anda mempunyai tanda-tanda atau gejala kelainan spektrum autisme (ASD). Setelah diagnosa dari tim ahli tumbuh kembang, mereka bisa merencanakan program intervensi atau terapi yang sesuai dengan kebutuhan anak. Untuk informasi tambahan mengenai kelainan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorders), Anda bisa mengunjungi Apotek Medikita, Ruko Citra 3 Ext. Blok A 1 No.7 Pegadungan, Kalideres Jakarta-Barat. Telp (021) 5595 3676.

Bunda dan Ayah dapat langsung mendatangi lokasi yang tertera dan dapat juga untuk menghubungi pada nomer telephone yang telah tersedia.

Terima kasih atas kepercayaan Bunda / Ayah kepada kami

APA ITU ATTENTION-DEFICIT/ HYPERACTIVE DISORDER (ADHD)?

APA ITU (ADHD) ATTENTION-DEFICIT/ HYPERACTIVE DISORDER?

ADHD atau Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder merupakan perilaku dengan gejala kurang memperhatikan, hiperaktif, dan impulsif yang menyebabkan kegagalan pada sebagian besar aspek kehidupan. ADHD tidak menunjukkan gejala yang dapat dilihat melalui sinar X atau tes dari laboratorium, hanya dapat diidentifikasi melalui karakteristik perilaku yang diperhatikan pada tiap anak. Perilaku anak dengan ADHD tidak dapat ditebak dan penuh dengan kontradiksi. Tidak hati-hati dan sangat tidak terorganisir menjadi sumber permasalahan bagi anak, orang tua, saudara kandung, guru-guru, dan teman sekelasnya. Usaha yang keras dan aturan yang ketat tidak akan membantu, karena kebanyakan anak dengan ADHD sudah berusaha untuk mengontrol dirinya. Mereka mau melakukan segala sesuatu dengan baik, tetapi selalu gagal karena kontrol diri yang sangat kurang. Pada situasi tertentu, anak dengan ADHD tampak terlihat baik dan tidak menunjukkan perilaku seperti cirinya. Mereka mungkin tidak tahu mengapa suatu hal dapat menjadi salah atau berpikir bahwa mereka berbeda.

Penyebab ADHD dapat karena faktor genetik, adanya masalah pada masa sebelum kehamilan, saat kehamilan, kelahiran dan sesudah kelahiran, masalah neurobiologis, diet dan alergi tertentu, dan pengaruh keluarga. ADHD memiliki dua ciri utama yaitu ADHD dengan gejala kurang pemusatan perhatian dan gejala hiperaktif-impulsif. Gangguan konsentrasi sebenarnya merupakan istilah lain dari gangguan perkembangan yang dikenal sebagai Attention-Deficit Disorder (ADD). Pada beberapa anak, gangguan konsentrasi biasanya diikuti oleh hiperaktivitas dan impulsivitas. Apabila terjadi, biasanya diagnosis berubah menjadi Attention-Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD. Sebagai gangguan perkembangan, ADD atau ADHD sesungguhnya sudah dapat di deteksi sejak anak belum berusia tujuh tahun. Namun, biasanya diagnosis baru diberikan saat anak berusia sekolah karena dampak gangguan ini dalam kehidupan belajar anak (Mash & Wolfe, 2010).

Jika Putra-Putri anda butuh konsultasi atau penganangan lebih lanjut, Bunda dapat menghubungi pada nomor yang tersedia.

 

 

 

Contact Us :

Ruko Citra 3 Ext. Blok A1 No. 7

Pegadungan Kalideres Jakarta Barat

Telp. 021 - 55953676

Ponsel  08118496777 (WA)
 

DAMPAK BERMAIN GADGET

DAMPAK BERMAIN GADGET

Dear Moms, ternyata masih banyak yah permainan yg lebih berguna untuk anak daripada bermain gadget, menonton TV, atau bermain laptop/komputer. Salah satu permainan edukatif yang bisa menjadi alternatif permainan adalah LEGO. Berguna untuk mengasah kreativitas, imajinasi, serta melatih kemampuan koordinasi motorik halus anak.

Bukannya anak sama sekali nggak boleh bermain gadget (dan sejenisnya). Tapi ingat Moms, SCREEN TIME untuk anak maksimal 2 jam saja perhari. IYAA.. DUA JAM SAJA DALAM SEHARI SEMALAM ✌

Apa tuh SCREEN TIME?
Screen time adalah waktu yang digunakan anak untuk bermain gadget, menonton TV, atau bermain laptop/komputer.

Apa yang terjadi kalau anak terlalu lama menghabiskan waktunya untuk SCREEN TIME?
Dampaknya cukup banyak Moms. Antara lain :
1. Keterlambatan bicara, karena saat SCREEN TIME minim sekali anak melakukan komunikasi. Sekalipun tidak ada keterlambatan dalam berbicara, biasanya bahasa yang anak gunakan adalah bahasa pasif karena anak tidak terbiasa berbicara secara aktif.
2. Kurangnya kemampuan motorik, khususnya motorik halus seperti menulis. Saat anak terlalu lama SCREEN TIME terutama menggunakan gadget, anak terbiasa menggunakan jari-jari kecilnya dengan sedikit tenaga (hanya dengan sedikit sentuhan saja layar bisa berganti sesuai dengan keinginan anak). Padahal, saat anak belajar menulis, koordinasi antara mata dan tangan sangat penting. Anak harus terampil dalam menggunakan jari-jarinya untuk membuat tulisan yang baik dan rapi.
3. Kurangnya kemampuan anak untuk bersosialisasi dan mengeksplorasi lingkungannya. Moms, saat anak terpapar gadget (dan sejenisnya), anak seakan-akan melupakan hal-hal disekelilingnya. Mata mungilnya terpana dengan apa yang ia lihat di layar. Masa kecilnya terlalu singkat apabila ia habiskan hanya untuk SCREEN TIME. Masih banyak yang dapat anak lakukan dengan kemampuan imajinasinya yang luar biasa.

Masih banyak dampak negatif lainnya. Intinya, sesuatu yang berlebihan itu efeknya buruk.
So, mulai sekarang perhatikan SCREEN TIME untuk anak. Maksimal 2 jam saja yaa, Moms. Pastikan juga saat ortu bekerja, PRT tidak menyuguhi gadget/TV untuk mendiamkan anak di rumah.

Salam,
Maria Ulfah Hanafie M.Psi., Psikolog

#psikologanak #psikologremaja #psikolog

PRAKTEK PSIKOLOG

PRAKTEK PSIKOLOG

By :

Maria Ulfah S. Psi., M. Psi., Psikolog

Usia anak adalah usia emas perkembangan otak, mereka akan belajar serta menyerap apa yang dia lihat, dia dengar serta mencoba apa saja yang dia temui di lingkungannya.

Setiap anak masing-masing memiliki potensi yang berbeda, untuk itu sebaiknya kita sebagai orang tua dapat mengerti dan mengetahui untuk membimbing sesuai dengan minat anak.

LAYANAN PSIKOLOGI

  • KONSULTASI PSIKOLOGIS ANAK DAN REMAJA
  • TES KEPRIBADIAN
  • TES IQ
  • TES IQ PENJURUSAN SEKOLAH / KULIAH
  • TES CQ / TES KRATIFITAS
  • TES KEMATANGAN SEKOLAH
  • TES MINAT & BAKAT
  • INDIVIDUAL NEED TEST
  • TES RELASI SOSIAL DAN KONSEP DIRI
  • TES PRESTASI / SIKAP KERJA
  • EVALUASI TUMBUH KEMBANG
  • TERAPI BERMAIN / PLAY THERAPY
  • TERAPI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
  • PAKET ASSESSMENT PSIKOLOGI

 

 

 

 

Bunda dan Ayah dapat langsung mendatangi lokasi yang tertera dan dapat juga untuk menghubungi pada nomer telephone yang telah tersedia.

Terima kasih atas kepercayaan Bunda / Ayah kepada kami

Anak “kesayangan” ku

Anak “kesayangan” ku

Putra dan Putri merupakan anugerah dari tuhan yang tidak terhingga nilainya, sehingga saat Bunda menyadari di awal kehamilan pasti kita akan mengurangi waktu kerja atau memperbanyak istirahat, makan makanan yang lebih sehat dan bergizi, minuman yang sehat pula serta konsultasi kepada dokter kandungan sampai dengan masa kelahirannya tiba.

Dalam fase selanjutnya (tumbuh kembang) biasanya tidak sedikit orang tua yang memiliki cara sendiri untuk mendidik putra/putri kecilnya, dimana cara tersebut menurut para ahli (Dokter Anak / Psikolog Anak) tidak tepat diaplikasikan kepada anak.

Kurangnya arahan positive orang tua dikarenakan kesibukan atau setelah waktu pekerjaan harusnya dimanfaatkan Bunda dan Ayah untuk interaksi kepada putra / putri kita, jangan sampai anggapan “pembiaran” atau dengan kata lain yang penting anak tenang merupakan sesuatu yang wajar.

Banyak orang tua yang melakukan “pembiaran” dengan cara memberikan ponsel atau ipad kepada putra/putri dengan waktu yang tidak wajar, memberi tontonan televisi tidak sesuai usia, memberikan tontonan yang bahkan memberikan dampak negative lainnya. Namun orang tua tidak menyadari secara langsung dampak negative itu yang terjadi kepada putra atau putri kita. dan banya sekali pertanyaan orang tua, diantaranya ”

  1. Tidak sedikit orang tua yang berkeluh “kenapa anak saya masih belum bisa bicara di usia > 2 tahun ?”. Dimana hal itu banyak faktor diantaranya seperti saya contohkan tadi (waktu bermain ponsel yang berlebihan, pemakaian lebih dari satu bahasa dirumah dll.).
  2. “Kenapa anak saya kurang aktive, tidak seperti anak lainnya ?”
  3. “Kenapa anak saya pemalu, tidak seperti ini dan itu ?”
  4. “Kenapa anak saya tidak suka makan nasi, sayur atau buah ?”
  5. “Kenapa anak saya pemarah, tidak menurut ?”
  6.  Dan lainnya ? ? ?

Masih banyak lagi pertanyaan yang ingin orang tua sampaikan namun tidak tahu kemana dan dimana harus menyampaikannya dimana orang tua lebih banyak diselimuti rasa “kebiasaan” dan “kesayangan” dengan kata lain yang dilakukan telah benar, namun “Kurang Benar”.

Untuk itu, pertanyaan diatas tadi dapat disampaikan kepada ahlinya yaitu Dokter Anak atau Psikolog Anak yang memberikan solusi tersebut agar tumbuh kembang anak kita berjalan baik.

Akhir kata kita sebagai orang tua untuk mulai menghilangkan hal-hal kurang baik kepada anak, atau rasa “kebiasaan” atau “kesayangan” sehingga masukan, saran ataupun arahan baik dari orang-orang yang memiliki pengalaman terhadap anak dapat anda terima dan aplikasikan hal yang baik kepada putra dan putri kita.