
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan tingkat penetrasi media sosial tertinggi secara global, berada dalam arus deras informasi visual. Aksesibilitas terhadap platform berbasis gambar seperti Instagram telah mentransformasi pola interaksi sosial dan, secara tidak langsung, konstruksi persepsi diri penggunanya. Sayangnya, fenomena ini kerap memperburuk citra tubuh (body image) karena unggahan di Instagram cenderung merepresentasikan standar ideal yang sulit dicapai.
Isu ketidakpuasan terhadap tubuh (body dissatisfaction) merupakan problematika lintas budaya, khususnya pada populasi wanita dewasa muda di berbagai wilayah, termasuk Asia. Ketidakpuasan tubuh didefinisikan sebagai evaluasi negatif afektif dan kognitif terhadap penampilan fisik individu. Di Indonesia, wanita menghadapi tekanan akulturatif antara standar kecantikan Barat (misalnya, hidung mancung, bentuk tubuh ramping) dan standar lokal, yang menciptakan konflik nilai.
Artikel ini akan mengulas ringkas temuan penelitian oleh Bernadea Linawati dan Avin Fadilla Helmi mengenai peran sikap sosiokultural (sociocultural attitudes) sebagai mediator antara aktivitas unggah foto di Instagram dengan ketidakpuasan tubuh pada wanita dewasa muda di Indonesia.
Ketidakpuasan Tubuh dan Media Sosial
Ketidakpuasan tubuh (body dissatisfaction) umumnya muncul pada fase remaja dan berlanjut hingga masa dewasa muda (emerging adulthood), yakni rentang usia 18–24 tahun. Pada periode ini, wanita cenderung mengidealkan tubuh kurus dan meningkatkan orientasi pada penampilan.
Aktivitas foto di Instagram berasosiasi positif dengan peningkatan ketidakpuasan tubuh. Hal ini terutama disebabkan oleh kecenderungan pengguna untuk melakukan perbandingan penampilan (appearance comparison), mengingat banyak unggahan yang telah melalui proses editing untuk menyajikan versi diri yang diidealkan. Media sosial, termasuk Instagram, kini berfungsi sebagai agen sosialisasi utama yang memengaruhi citra tubuh, selain faktor keluarga dan teman sebaya.
Pertanyaan selanjutnya adalah: mengapa sebagian individu lebih rentan terhadap pengaruh negatif ini sementara yang lain lebih resisten? Jawabannya terletak pada sikap sosiokultural. Penjelasan lebih lanjut akan diuraikan berikut.
Sikap Sosiokultural: Mekanisme Transmisi Pengaruh Media
Model sosiokultural menjelaskan bahwa standar ideal kecantikan disebarkan melalui berbagai agen sosial (termasuk media), kemudian diinternalisasi oleh individu. Tingkat kepuasan atau ketidakpuasan terhadap penampilan merupakan hasil evaluasi personal terhadap kesenjangan antara kondisi aktual dan standar internal tersebut.
Penelitian ini menyoroti dua faktor utama dari sikap sosiokultural yang berperan sebagai mediator:
- Internalisasi Standar Kecantikan (Internalization) : Derajat penerimaan dan keterpengaruhan individu terhadap standar kecantikan ideal yang dipromosikan masyarakat.
- Tekanan Sosial (Social Pressure) : Derajat tekanan yang dirasakan individu dari lingkungan untuk memenuhi standar ideal tersebut.
Dalam budaya kolektivis seperti masyarakat Asia Timur, individu cenderung lebih mudah menginternalisasi standar ideal dan merasakan tekanan untuk menyesuaikan diri (conformity pressure). Tekanan ini berasal dari berbagai sumber: keluarga, teman sebaya, pasangan (significant others), maupun media itu sendiri.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Partisipan berjumlah 311 wanita pengguna aktif Instagram, berusia 18–24 tahun. Seleksi partisipan dilakukan secara daring (online recruitment) dengan teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Skala Aktivitas Foto Instagram, Skala Ketidakpuasan Tubuh Wanita (Body Dissatisfaction Scale for Women/BDS-W), dan Skala Sikap Sosiokultural terhadap Penampilan (*Sociocultural Attitudes Toward Appearance Questionnaire-4R*/SATAQ-4R) yang mengukur dimensi internalisasi dan tekanan sosial. Analisis data menggunakan regresi dengan model mediasi sederhana.
Temuan Utama
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
- Sikap sosiokultural berperan sebagai mediator signifikan dalam hubungan antara aktivitas foto Instagram dan ketidakpuasan tubuh pada wanita dewasa muda.
- Peran mediasi ini bersifat penuh (full mediation) , artinya aktivitas foto Instagram tidak lagi memprediksi ketidakpuasan tubuh secara langsung ketika variabel sikap sosiokultural dimasukkan dalam model. Dengan kata lain, sikap sosiokultural merupakan mekanisme penjelas utama hubungan tersebut.
- Arah hubungan bersifat positif: semakin tinggi intensitas aktivitas foto Instagram, maka semakin tinggi tingkat ketidakpuasan tubuh, yang dimediasi oleh peningkatan sikap sosiokultural (internalisasi dan tekanan sosial).
Perbandingan Internalization vs. Social Pressure
Ketika kedua dimensi diuji secara terpisah, ditemukan pola yang berbeda:
- Internalization berperan sebagai mediasi parsial. Dimensi ini menyumbang 48,9% dari total efek, namun aktivitas foto Instagram tetap memiliki hubungan langsung yang signifikan dengan ketidakpuasan tubuh.
- Tekanan Sosial (Social Pressure) berperan sebagai mediasi penuh (full mediation) dengan kontribusi yang jauh lebih besar, yakni 95,91% dari total efek.
Temuan ini mengonfirmasi bahwa wanita dewasa muda di Indonesia sangat dipengaruhi oleh tekanan sosial dari lingkungan (teman sebaya, keluarga, media) untuk mencapai standar kecantikan tertentu. Tekanan sosial inilah yang secara kuat menjelaskan mekanisme mengapa aktivitas mengakses Instagram dapat memicu ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh.

Hubungi psikolog Maria Ulfah M.Psi., Psikolog, C.Ht. dengan appoitment ke nomer admin kami diatas. Percayakan cerita anda dengan psikolog berpengalaman dan terpercaya
