Tak Ada Alasan untuk Body Shaming: Mari Terima dan Cintai Tubuh Kita (Self Love)

Body Shaming Tidak Pernah Bisa Dibenarkan!

Dari sudut pandang mana pun, mengomentari tubuh seseorang secara negatif adalah tindakan yang buruk. Body shaming termasuk ke dalam bentuk perundungan (bullying) (Agarwal & Banerjee, 2018). Perilaku ini ditandai dengan mempermalukan orang lain melalui komentar yang tidak pantas atau menghina mengenai ukuran atau bentuk tubuh mereka. Body shaming dapat dilakukan secara langsung (di hadapan orang yang bersangkutan) maupun tidak langsung (di belakangnya). Kini, media sosial juga kerap menjadi sarana pelaku untuk melancarkan tindakan perundungan ini.

Penelitian menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita sama-sama merasakan dampak buruk dari body shaming (Agarwal & Banerjee, 2018). Perilaku ini terbukti memiliki korelasi positif dengan kecemasan sosial serta rasa takut akan penilaian negatif dari orang lain. Sebagian pihak menganggap body shaming sebagai bentuk perhatian atau niat baik agar seseorang mau berubah pada tubuhnya. Namun kenyataannya justru sebaliknya: mempermalukan seseorang tentang tubuhnya justru memicu stres dan, dalam kasus fat shaming, dapat menyebabkan kenaikan berat badan lebih lanjut. Bukankah ini lingkaran setan yang harus segera dihentikan?

Menurut Schluger (2021), dalam budaya kita yang sangat peduli pada berat badan, penampilan fisik sering kali lebih diutamakan daripada pertimbangan kesehatan. Beberapa bentuk tubuh kerap dicap “tidak sehat” padahal belum tentu demikian. Body shaming yang bertujuan menyakiti jelas merupakan tindakan keliru. Demikian pula body shaming yang diklaim sebagai bentuk perhatian—itu adalah perhatian yang salah arah.

Jika kita bingung hendak memulai percakapan dari mana, menanyakan hal-hal umum seperti “Bagaimana perjalananmu hari ini?” atau “Ada berita pagi ini?” bisa menjadi pilihan yang lebih baik daripada mengomentari kondisi fisik seseorang. Jika kita benar-benar peduli pada kesehatannya, bertanya secara umum bisa menjadi cara yang lebih aman, misalnya “Apa kabar?” atau “Bagaimana keadaanmu hari ini? Fisik, pikiran, perasaanmu bagaimana?” Masih banyak cara lain yang lebih baik. Sebaiknya kita bertanya terlebih dahulu, baru kemudian memberi saran atau penilaian—itupun hanya jika diminta dan dengan kata-kata yang baik. Dengan bertanya, kita juga membantu seseorang menyadari apa yang ia rasakan. Kesadaran yang tumbuh dari dalam diri sendiri merupakan awal yang baik untuk membangun kondisi fisik dan mental yang sehat, dibandingkan kesadaran yang dipaksakan oleh komentar negatif orang lain.

Berbaikan dengan Tubuh Sendiri

Tidak selalu mudah menjalani hari setelah menerima komentar negatif tentang tubuh dari orang lain, terlebih dari orang terdekat. Mulai dari rasa tidak percaya diri, perasaan buruk, kecewa, bahkan marah bisa menghampiri. Itu wajar. Tidak ada satu pun orang yang benar-benar merasa baik-baik saja saat mendapat body shaming.

Mengutip tulisan Jernigan (2022), ada lima hal yang bisa kita lakukan untuk mencintai diri sendiri dan mengembangkan penilaian yang sehat terhadap tubuh kita.

  1. Sadari bahwa body shaming tidak sepenuhnya karena kesalahan kita. Saat ini, penilaian tentang bentuk dan ukuran tubuh sangat dipengaruhi oleh standar dari luar diri kita. Jika muncul rasa marah, beri ruang agar emosi itu keluar dengan cara yang sehat, misalnya mengatur napas atau melakukan teknik relaksasi lainnya. Pastikan kita tidak melampiaskan marah pada diri sendiri, karena itu bisa menjadi awal dari langkah yang keliru. Ketika kita mampu “berhenti melihat diri sendiri sebagai masalah”, kita dapat terhubung dengan kekuatan di dalam diri. Alih-alih menganggap diri sebagai masalah, lebih baik melihat diri sebagai solusi.
  2. Saatinya membentuk cara berpikir yang baru. Body shaming dari orang lain sangat mungkin memicu self-shaming (rasa malu pada diri sendiri) dalam pikiran kita. Kita harus menghentikan siklus ini. Katakan pada dirimu bahwa belum tentu semua yang dikatakan orang tentang diri kita itu benar; kitalah yang paling mengenal diri kita sendiri. Buatlah filter agar kita bisa memisahkan opini yang tepat dan yang tidak tepat. Ini juga bisa dilanjutkan dengan mengecek ulang akun media sosial yang kita ikuti—mungkin self-shaming bermula dari sana.
  3. Fokus pada kesehatan dan fungsi tubuh kita terlebih dahulu, bukan pada bentuk atau ukurannya. Kamu berhasil melewati hari ini dengan baik? Itu artinya tubuhmu sudah berusaha semaksimal mungkin. Berikan apresiasi padanya. Daripada berpikir untuk mengubah penampilan, lebih baik tanyakan pada tubuhmu apa yang ia butuhkan agar dapat berfungsi lebih baik, lebih sehat, lebih kuat, dan lebih tenang.
  4. Bersyukurlah atas apa yang telah tubuh berikan kepada kita. Sebelum tidur, cobalah menulis atau mengingat tiga alasan mengapa kita berterima kasih atas hal yang telah tubuh kita berikan atau lakukan.
  5. Ingin melangkah lebih jauh? Jadilah agen perubahan untuk menghentikan body shaming. Ini bisa dimulai dengan menyebarkan pesan-pesan positif yang menolak body shaming. Di lingkaran pertemanan kita, gunakan kata-kata yang positif untuk menunjukkan perhatian, dan jadilah pendengar bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi body shaming.

#bodyshaming #fokus #berbaikan

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *