Esensi dari Healing atau Coping Stress

Healing: Antara Kesalahpahaman dan Makna Sebenarnya

Saat ini, istilah healing sering diucapkan banyak orang, termasuk mereka yang tidak memiliki latar belakang psikologi. Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata healing? Sebagian orang mengartikannya sebagai liburan ke luar negeri, menginap di hotel, berbelanja, atau perawatan ke salon. Dengan kata lain, healing kerap dikaitkan dengan hal-hal menyenangkan yang membuat kita sejenak melupakan kepenatan hidup. Dulu, kegiatan semacam ini lebih dikenal sebagai refreshing, yang tujuannya memang menyegarkan kembali pikiran dan tubuh setelah lelah beraktivitas. Namun, healing memiliki cakupan yang lebih luas dan mendalam dibanding sekadar refreshing. Lalu, apa sebenarnya esensi dari healing?

Healing Juga Bisa Terasa Menyakitkan

Anggapan bahwa healing selalu identik dengan kesenangan dan ketenangan tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Saat menghadapi situasi pemicu stres, teknik perawatan diri seperti latihan pernapasan, minum secangkir teh hangat, atau mendengarkan musik meditasi dapat menenangkan tubuh yang cemas. Namun, untuk masalah yang lebih serius, seperti trauma atau gangguan psikologis, teknik-teknik yang hanya menstabilkan kondisi sementara belum tentu mampu memproses akar permasalahan. Bagi mereka yang mengalami peristiwa traumatis atau sedang melalui fase hidup yang berat, menjalani keseharian saja bisa terasa sulit. Karena itu, healing juga bisa berupa konseling dengan psikolog dan/atau konsumsi obat psikiatri untuk memproses trauma, mempelajari strategi koping baru, meningkatkan kesadaran diri, dan mencapai stabilitas psikologis.

Saat menjalani konseling, topik yang dibahas tidak selalu menyenangkan. Kita harus berhadapan dengan sisi diri yang paling tidak kita sukai atau kenangan paling kelam yang ingin kita lupakan. Meskipu terasa tidak nyaman, mengingat dan menyadari apa yang terjadi di masa lalu adalah bagian penting dari healing. Bayangkan jika Anda diminta mengerjakan soal matematika—Anda harus tahu jenis soalnya: apakah hitungan sederhana, trigonometri, atau aljabar? Setelah tahu persoalannya, barulah Anda bisa memilih solusi yang tepat. Sebaliknya, jika Anda tidak memahami soal yang dihadapi, membaca berulang kali pun tidak akan mendatangkan jawaban. Hal yang sama berlaku dalam konseling psikologis. Jika Anda tidak mengetahui akar masalah dari isu yang Anda hadapi, proses healing akan berjalan lebih lambat. Langkah awal memahami apa yang terjadi pada diri sendiri membantu menentukan langkah paling efektif untuk memulihkan diri.

Healing Bukan Berarti Melupakan

Otak manusia dirancang untuk memproses banyak informasi dalam satu waktu. Karena karakteristik ini, manusia tidak mudah lupa. Bahkan jika kita lupa, informasi tersebut sebenarnya masih tersimpan di otak, hanya saja tidak dapat diakses sementara. Dengan kata lain, healing bukanlah menghapus ingatan tentang masa lalu yang menyakitkan. Healing adalah proses belajar memahami diri sendiri dan menerapkan cara-cara efektif agar masa lalu tidak lagi mengendalikan seluruh emosi kita di masa kini.

Tahap-tahap dalam Proses Healing

Healing memiliki tahapan yang prosesnya bisa berbeda pada setiap orang. Setelah melewati suatu tahap, bisa jadi ada kejadian baru yang membuat kita kembali ke tahap sebelumnya. Uraian tahapan di bawah ini bertujuan memberikan gambaran umum tentang perjalanan healing.

Tahap 1: Ketidaksadaran
Ini adalah tahap paling tidak nyaman. Anda merasakan ketidaknyamanan luar biasa, sulit beraktivitas sehari-hari, sering mengalami emosi negatif, serta kesulitan mengekspresikan emosi atau bersosialisasi. Lebih parahnya, Anda tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan mengapa Anda merasa seburuk ini. Karena tidak tampak jalan keluar, Anda bisa merasa putus asa dan takut akan terus berada dalam kondisi ini selamanya.

Tahap 2: Kesadaran
Saat Anda mulai menyadari isu yang dimiliki, tahap pertama pun terlewati dengan rasa lega, karena pada dasarnya manusia tidak suka situasi yang tidak dipahami. Namun, pengetahuan baru yang diperoleh pada tahap ini juga bisa terasa sangat berat. Tidak jarang muncul rasa marah, kecewa, sedih, atau menyesal. Pada tahap ini, Anda sudah mengetahui akar masalah, tetapi belum tahu bagaimana menghadapinya.

Tahap 3: Menambah Pengetahuan, Eksplorasi, dan Pembelajaran
Di sini Anda menggali dan mempelajari penyebab, dampak, serta cara mengatasi trauma atau masalah psikologis yang dialami. Dengan wawasan baru, Anda memiliki kerangka pemahaman yang lebih jelas tentang diri sendiri. Seperti menyusun puzzle, perlahan Anda menghubungkan satu informasi dengan informasi lain hingga terbentuk gambaran yang menyeluruh dan mendalam tentang diri Anda.

Tahap 4: Berlatih, Mengintegrasikan, dan Menerapkan
Seiring berjalannya healing, Anda mempelajari berbagai cara baru untuk menghadapi emosi negatif. Cara-cara ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, lalu Anda mengamati perubahan yang terjadi. Efektivitas setiap strategi bisa berbeda-beda pada tiap orang. Ketika Anda menemukan strategi koping yang ampuh dan melihat perubahan dalam cara merespons emosi yang tidak menyenangkan, Anda akan merasa lebih percaya diri, kuat, dan tangguh.

Tahap 5: Bertransformasi
Melalui proses coba-coba saat menerapkan strategi atau keterampilan baru untuk menstabilkan diri dan memproses masalah mendalam, perlahan Anda menyadari bahwa Anda telah berubah. Anda mulai merasa mampu menghadapi masalah dengan lebih efektif, lebih bahagia, dan tidak lagi terganggu oleh isu-isu masa lalu. Anda telah belajar cara menciptakan rasa aman, mengekspresikan perasaan secara sehat, memenuhi kebutuhan diri, dan menetapkan batasan yang sehat.

Tahap 6: Kesadaran Spiritual
Pada tahap ini, koneksi Anda dengan diri terdalam semakin kokoh. Meskipun ada peristiwa negatif yang mengingatkan pada isu lama, Anda tidak lagi bereaksi seperti dulu sebelum memulai perjalanan healing. Fokus Anda tidak lagi tertuju pada masa lalu yang disesali atau masa depan yang dikhawatirkan, melainkan pada saat ini. Anda mampu menjalin ikatan emosional yang tulus dengan orang-orang di sekitar, terutama sistem pendukung Anda. Pada akhirnya, Anda merasakan kedamaian batin yang sejati.

Healing Adalah Proses, Bukan Sesuatu yang Instan

Jika masalah psikologis telah berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, akar masalah tentu tidak bisa terurai hanya dalam satu kali sesi konseling. Healing adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan komitmen dan kesiapan, karena prosesnya belum tentu lurus—kadang kita jatuh lagi, lalu bangkit lagi. Perkembangannya sangat tergantung pada jenis masalah dan karakteristik individu. Oleh karena itu, jika Anda mengalami fase jatuh lagi selama healing, jangan langsung menganggapnya sebagai kegagalan. Jatuh-bangun atau trial-error adalah bagian yang wajar dari perjalanan healing itu sendiri.

#healing #spiritual #trauma

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *