
Merasa cemas karena berita akhir-akhir ini adalah respons yang sangat manusiawi dan wajar. Kamu tidak sendirian dalam merasakan hal ini. Banyak orang mengalami hal serupa karena cara kita mengonsumsi berita dan jenis berita yang disajikan saat ini.
Berikut beberapa alasan mengapa berita bisa memicu kecemasan, dan apa yang mungkin terjadi pada dirimu:
Mengapa Berita Bisa Memicu Cemas?
- Bias Negatif Otak : Otak manusia secara alami lebih fokus pada informasi negatif daripada positif. Ini adalah mekanisme bertahan hidup. Berita negatif (konflik, krisis, bencana) secara langsung mengaktifkan sistem waspada ini, membuat kita merasa terancam meskipun ancaman itu tidak langsung menimpa kita.
- Perasaan Tidak Berdaya : Berita sering menyajikan masalah-masalah besar (skala nasional/global) yang berada di luar kendali pribadi kita. Perasaan tidak bisa berbuat apa-apa ini dapat memicu frustrasi dan kecemasan yang mendalam.
- Efek “Dunia yang Kejam” : Terpapar terus-menerus pada berita negatif dapat membuat kita melebih-lebihkan seberapa besar bahaya yang ada di dunia sekitar kita. Kita mulai berpikir bahwa hal-hal buruk lebih mungkin terjadi pada kita, padahal kenyataannya mungkin tidak demikian.
- Banjir Informasi (Information Overload) : Kita hidup di era di mana berita datang 24/7 dari berbagai platform (TV, media sosial, notifikasi ponsel). Sulit untuk menghindari informasi. Paparan yang konstan ini membuat sistem saraf kita tidak punya waktu untuk tenang dan memulihkan diri.
- Ketidakpastian : Banyak berita utama membahas hal-hal yang belum jelas (misalnya : situasi politik yang memanas, perkembangan konflik, perubahan kebijakan). Otak tidak menyukai ketidakpastian dan akan terus-menerus mencoba mencari jawaban atau skenario terburuk, yang pada akhirnya memicu siklus kecemasan.
- Sensasionalisme Media : Media sering menyajikan berita dengan judul mencolok atau konten yang dibuat untuk memancing emosi kuat (takut, marah, sedih) agar lebih banyak diklik atau ditonton.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?
Menyadari bahwa ini adalah masalah adalah langkah pertama yang baik. Berikut beberapa strategi yang bisa kamu coba untuk melindungi kesehatan mentalmu:
- Batasi Konsumsi Berita. Jadwalkan waktu melihat berita. Jangan mengecek berita setiap saat, tetapkan waktu khusus, misalnya 30 menit di pagi hari. Di luar waktu itu, usahakan untuk tidak membuka aplikasi berita.
- Pilih Sumber Berita yang Berkredibilitas. Pilih 1-2 sumber berita yang terpercaya dan dikenal karena jurnalisme yang faktual, bukan sensasional. Ini membantumu mendapatkan informasi yang lebih seimbang.
- Lakukan “Digital Detox” Kecil. Luangkan waktu, meski hanya 1-2 jam sebelum tidur, untuk benar-benar bebas dari layar dan berita. Gunakan waktu itu untuk membaca buku, ngobrol dengan keluarga, atau melakukan hobi.
- Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan. Tanyakan pada dirimu: “Dari semua berita ini, adakah satu hal kecil yang bisa aku lakukan?” Mungkin itu adalah menyumbang untuk korban bencana, mengikuti diskusi yang sehat, atau sekadar menjaga kebaikan di lingkungan terkecilmu. Fokus pada tindakan nyata dapat mengembalikan rasa kuasa.
- Seimbangkan dengan Konten Positif. Secara sengaja cari cerita-cerita baik, konten inspiratif, atau hal-hal lucu. Ini membantu menetralkan bias negatif otak.
- Bicarakan Perasaanmu. Berbicara dengan teman atau keluarga tentang perasaan cemas ini. Kamu mungkin akan terkejut bahwa mereka juga merasakan hal yang sama. Berbagi bisa meringankan beban.
- Grounding dan Perawatan Diri. Saat cemas melanda, coba teknik grounding sederhana: tarik napas dalam, rasakan kaki menyentuh lantai, atau sebutkan 5 hal yang bisa kamu lihat di sekitarmu. Kembalikan kesadaranmu pada saat ini, di mana kamu (secara fisik) aman.
Ingat, penting untuk tetap terinformasi, tetapi tidak sampai membuat diri kita overwhelmed (kewalahan). Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mengetahui apa yang terjadi di dunia.
Jika kecemasan ini sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, istirahat, atau hubunganmu dengan orang lain, tidak ada salahnya untuk mencari bantuan profesional dari psikolog.

#kecemasan #berita #psikolog
