Bolehkah Cut Off (Memutus Hubungan) dari Orang Tua Sendiri?

Dalam situasi tertentu, cut off (memutus hubungan) dengan orang tua bisa menjadi pilihan terakhir untuk menyelamatkan kesehatan mental seseorang. Namun, ini bukan keputusan yang diambil dengan enteng dan biasanya dianggap sebagai “jalan terakhir” setelah berbagai upaya dilakukan.

Mari kita bedah berdasarkan perspektif psikologi

1. Kapan “Cut Off” Menjadi Pertimbangan?Para psikolog umumnya tidak merekomendasikan pemutusan hubungan secara terburu-buru, kecuali jika hubungan tersebut termasuk dalam kategori toxic atau abusive (beracun atau kasar) yang membahayakan keselamatan psikis dan fisik.

Contohnya:

· Kekerasan Fisik, Emosional, atau Seksual: Jika orang tua adalah pelaku aktif kekerasan yang terus berulang tanpa penyesalan.

· Pelecehan Verbal Kronis: Penghinaan, perendahan, dan kritik kejam yang dilakukan terus-menerus dan merusak harga diri.

· Eksploitasi: Orang tua memanfaatkan anak secara finansial atau emosional tanpa peduli dampaknya pada anak.

· Mengancam Keselamatan: Jika kehadiran orang tua mengancam keselamatan anak atau keluarga baru yang telah dibangun anak (pasangan dan cucu).

· Tidak Ada Ruang untuk Perubahan: Ketika semua upaya komunikasi, terapi keluarga, atau dialog dewasa selalu berakhir dengan kekerasan, manipulasi, atau penolakan.

Dalam kasus seperti ini, mempertahankan hubungan justu bisa menyebabkan trauma berkepanjangan, depresi berat, atau kecemasan kronis.

2. Perbedaan “Cut Off” dan “Boundaries” (Batas yang Sehat)

Dalam psikologi, konsep yang lebih dianjurkan sebenarnya adalah menetapkan batasan yang sehat (boundaries), bukan serta-merta memutuskan hubungan total.

· Boundaries: “Aku tetap akan hubungi ibu, tapi aku akan tutup telepon jika ibu mulai menghinaku.” Atau, “Aku hanya akan bertemu ayah di tempat umum, tidak di rumah.”

· Cut Off: “Aku tidak akan lagi menerima telepon, bertemu, atau mendengar kabar tentang mereka.” Para ahli biasanya menyarankan untuk mencoba membangun boundaries terlebih dahulu. Cut off biasanya terjadi ketika boundaries ini terus-menerus dilanggar dan tidak dihormati.

3. Apakah Ini Berarti Anak Durhaka?Perspektif psikologi melihatnya berbeda dari sekadar konsep “durhaka”.

· Tanggung Jawab Orang Dewasa

Orang tua bertanggung jawab atas perilaku mereka. Jika seorang anak memutuskan hubungan, itu adalah respons terhadap perilaku orang tua yang tidak kunjung berubah, bukan tindakan sepihak tanpa sebab.

· Keselamatan Diri

Sama seperti kita berhak meninggalkan lingkungan atau teman yang beracun, kita juga punya hak untuk melindungi diri dari keluarga yang beracun. Kesehatan mental adalah hak asasi.

· Bukan Berarti Tidak Memaafkan

Seseorang bisa saja secara internal sudah memaafkan orang tuanya (melepas dendam), tetapi tetap memilih untuk tidak menjalin hubungan karena interaksi dengannya terbukti selalu merusak. Ingat, memaafkan tidak selalu berarti berdamai atau menjalin relasi.

4. Sebelum Memutuskan, Coba Renungkan dan Lakukan Ini

Jika kamu sedang mempertimbangkan langkah ini, psikolog biasanya akan menyarankan untuk melakukan hal berikut terlebih dahulu:

1. Terapi Individu: Bicarakan dengan psikolog. Mereka bisa membantumu melihat apakah luka masa lalu membuatmu terlalu sensitif, atau apakah memang orang tuamu yang bermasalah.

2. Komunikasi Asertif Terakhir: Coba sampaikan dengan jelas dan tenang apa yang kamu rasakan dan batasan apa yang kamu butuhkan. Misalnya: “Bu, kalau omongan seperti itu, saya akan pergi dulu ya.” Lihat reaksinya. Apakah mereka berusaha berubah?

3. Terapi Keluarga: Jika memungkinkan dan orang tua bersedia, coba lakukan terapi keluarga dengan mediator profesional. Ini bisa menjadi upaya terakhir sebelum “menyerah” pada hubungan.

4. Jeda, Bukan Putus: Coba lakukan low contact (jarang hubungi) atau time out untuk sementara waktu. Gunakan waktu ini untuk merasakan apakah hidupmu lebih baik tanpa interaksi dengan mereka. Ini bisa menjadi data penting untuk mengambil keputusan jangka panjang.

Kesimpulan

Secara psikologis, memutuskan hubungan dengan orang tua diperbolehkan jika itu adalah upaya terakhir untuk menyelamatkan diri dari kehancuran mental. Ini bukan tindakan egois, melainkan tindakan mempertahankan diri. Namun, keputusan ini akan selalu membawa konsekuensi emosional yang kompleks (seperti perasaan bersalah, kehilangan, atau duka). Oleh karena itu, sangat disarankan untuk tidak melalui proses ini sendirian.

Dampingan psikolog profesional akan sangat membantu untuk memastikan keputusanmu adalah keputusan yang sehat, bukan hanya didorong oleh amarah sesaat.

#cutoff #orangtua #toxic #sehatmental #hipnoterapi

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *